Menumbuhkan kesadaran untuk mencintai alam sejak
dini dalam bingkai pemahaman tauhid yang lurus, menjadi wujud dari hal
itu. Dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya, selayaknya kita selaku
hamba juga dapat menjaga, mencintai dan melestarikan lingkungan alam.
Fenomena kerusakan alam saat ini, tak jauh berbeda dengan
penggalan puisi diatas. Bencana yang beruntun terjadi seakan-akan
menjadi teguran bagi orang yang beriman. Permasalahan pada satu bencana
belum tuntas diselesaikan, permasalahan baru telah datang. Apakah
bencana tersebut ujian, peringatan atau hanya fenomena alam yang wajar
terjadi?Dalam surat al-Baqarah [2]: 11-12 disebutkan, “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.“ Ayat tersebut mengungkapkan bahwa manusialah yang membuat kerusakan di muka bumi, tapi manusia berkelit. Karenanya, bencana yang terjadi saat ini dapat pula dikatakan sebagai human error (kesalahan manusia) bila kita bijak menyikapinya. Bukan sekadar peristiwa yang datang dan pergi begitu saja.
Islam dan kehidupan merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Segala kejadian yang ada, tak luput dari kuasa Allah SWT. Jika manusia dapat menyeimbangkan antara fungsi dan perannya sebagai seorang hamba dan khalifah, maka human error tentunya bisa diminimalisir. Menumbuhkan kesadaran untuk mencintai alam sejak dini dalam bingkai pemahaman tauhid yang lurus, menjadi wujud dari hal itu. Dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya, selayaknya kita selaku hamba juga dapat menjaga, mencintai dan melestarikan lingkungan alam. Karena sebagai khalifah di muka bumi, menyelamatkan dan menjaga lingkungan alam merupakan salah satu bentuk pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Bukti bahwa Islam rahmatan lil allamin, untuk manusia dan seluruh mausia ciptaan-Nya. Islam tidak lalai akan budaya peduli lingkungan. Bersih lingkungan (alam), hati dan pola pikir, Insya Allah akan menciptakan lingkungan yang positif bagi misi penghambaan.
Namun kenyataanya, budaya dan pola hidup yang pro terhadap lingkungan, malah diaplikasikan oleh negara-negara Barat. Mereka telah menerapkan pola cinta lingkungan dalam kesehariannya. Contohnya dalam hidup bersih. Berbeda sekali dengan di negara kita (Indonesia) atau negara berkembang lainnya. Jika kita keluar dari rumah atau tempat tinggal, maka akan menemukan berbagai macam sampah. Jalan, sungai bahkan di instansi pemerintahan pun, sampah menjadi masalah utama yang belum tertanggulangi dengan baik. Dari permasalahan sampah, berdampak besar bagi aspek lainnya. Tak hanya mengotori dan merusak lingkungan, tetapi juga menjadi sumber penyakit yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Jadi, mengapa kita masih berdiam diri dengan keadaan yang saat ini terjadi? Bangkit dan mulailah dari sekarang, dari yang terkecil dan dari diri sendiri. Caranya, dapat berupa melestarikan tumbuhan yang telah ada, menahan diri dari membuang sampah, mengurangi penggunaan plastik secara berlebihan, menghindari pembuangan sampah di sungai, dan memisahkan sampah organik dan non-organik. Sampah yang masih layak produksi (botol plastik) atau sejenisnya, bisa dimanfaatkan pemulung untuk dijual kepada produsen yang dapat memanfaatkan plastik tersebut. Simbiosis mutualisme antara manusia dan lingkungan dapat terwujud dengan baik.
Berawal dari kesadaran dan budaya yang peduli terhadap lingkungan, Insya Allah dapat mencegah kerusakan alam. Tentunya semua ikhtiar yang dilakukan, semata-mata untuk mewujudkan bukti penghambaan kepada Allah SWT.
Cintailah Islam dan prinsipnya karena itu adalah jalan menuju ridho-Nya. Sebagaimana pula mencintai lingkungan—tempat kita hidup di dunia—sebagai bukti penghambaan kepada-Nya. Wallahu’alam bissawwab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar